Pages

Senin, 13 Juni 2011

contoh proposal


PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI DENGAN METODE PETA PIKIRAN (MIND MAPPING) PADA SISWA KELAS V MI PERGURUAN MUALLIMAT CUKIR JOMBANG.
PROPOSAL
(Penelitian Tindakan Kelas)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
“ Seminar Pendidikan"


iain




         

         



Oleh:


Siti Suhaila
D37208010

Dosen Pembimbing:

Nadzir M.Pd



JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peranan seorang guru dalam proses belajar-mengajar harus mampu mengembangkan perubahan tingkah laku pada siswa. Perubahan tingkah laku tersebut merupakan tujuan dari pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik (2010: 79) mengungkapkan bahwa taksonomi tujuan pendidikan digunakan sebagai dasar untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Taksonomi tujuan tersebut terdiri dari domain-domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu dalam mengajar pada bidang studi apapun guru harus berupaya mengembangkan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap anak didik, sebab ketiga aspek tersebut merupakan pembentuk kepribadian individu.
Madrasah Ibtidaiyah adalah tempat pengalaman pertama yang memberikan dasar pembentuk kepribadian individu. Sehubungan dengan hal itu guru perlu membekali siswanya dengan kepribadian, kemampuan, dan keterampilan dasar yang cukup sebagai landasan untuk mempersiapkan pengalamannya pada jenjang yang lebih tinggi.
Masalah bahasa dalam dunia pendidikan merupakan peranan yang sangat penting. Pendidikan di Indonesia menempatkan bahasa Indonesia sebagai salah satu bidang studi yang diajarkan di sekolah. Pengajaran Bahasa Indonesia haruslah berisi usaha-usaha yang dapat membawa serangkaian keterampilan. Keterampilan tersebut erat hubungannya dengan proses-proses yang mendasari pikiran. Semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Menurut Tarigan, dalam Muchlisoh (1996: 257) ada empat aspek keterampilan berbahasa yang mencakup dalam pengajaran bahasa adalah: (1) keterampilan menyimak (listening skills); (2) keterampilan berbicara (speaking skills); (3) keterampilan membaca (reading skills); dan (4) keterampilan menulis (writting skills), dan keempat keterampilan tersebut saling berhubungan satu sama lain.
Salah satu bidang aktivitas dan materi pengajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah yang memegang peranan penting ialah pengajaran menulis. Menulis merupakan salah satu kompetensi bahasa yang ada dalam setiap jenjang pendidikan, mulai tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi. Menulis adalah salah satu dari 4 keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik oleh siswa. Menurut Yeti Mulyati, dkk. (2008: 5.3) menulis adalah suatu proses berfikir dan menuangkan pemikiran itu dalam bentuk wacana (karangan
).
Menurut The Liang Gie (1992: 17) Mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Sehubungan dengan hal itu mengarang dapat diartikan keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami secara tepat seperti yang dimaksudkan oleh penulis atau pengarang. Karangan itu sendiri memiliki klasifikasi dan jenis yang beragam. Menurut Yusi Rosdiana, dkk. (2008: 3.22) wacana narasi merupakan salah satu jenis wacana yang berisi cerita. Hal ini berarti bahwa menulis narasi adalah salah satu jenis karangan yang sifatnya bercerita, baik berdasarkan pengalaman, pengamatan, maupun berdasarkan rekaan pengarang.
Menulis narasi merupakan kompetensi menulis yang sudah ada dan dimulai di jenjang Sekolah Dasar. Siswa dapat mengungkapkan perasaan, ide, dan gagasannya kepada orang lain melalui kegiatan menulis narasi. Kemampuan menulis narasi tidak secara otomatis dapat dikuasai oleh siswa, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur, sehingga siswa akan lebih mudah berekspresi dalam kegiatan menulis. Sehubungan dengan itu kemampuan menulis harus ditingkatkan sejak kecil atau mulai dari pendidikan dasar. Apabila kemampuan menulis tidak ditingkatkan, maka kemampuan siswa untuk mengungkapkan pikiran atau gagasan melalui bentuk tulisan akan semakin berkurang atau tidak berkembang.
Hal-hal yang berbeda seperti dapat dijumpai dalam keterampilan berbahasa yang lain, kemampuan menulis memerlukan sejumlah potensi pendukung. Untuk mencapainya dibutuhkan kesungguhan-kesungguhan, kemauan keras, bahkan dengan belajar sungguh-sungguh. Dengan demikian, wajar bila dikatakan bahwa meningkatkan kemampuan menulis akan mendorong siswa lebih aktif, kreatif dan melatih kemahiran.
Kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah metode pembelajaran. Menurut T. Raka Joni dalam Soli Abimanyu (2008: 2-5) metode adalah cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Metode merupakan cara pelaksanaan kegiatan dalam mencapai tujuan yaitu tujuan pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang telah terbukti mampu mengoptimalkan hasil belajar adalah metode peta konsep atau disebut peta pikiran (mind mapping). Menurut Edward (2009: 64) peta pikiran (mind mapping) adalah cara paling efektif dan efisien untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan data dari atau ke otak. Peta pikiran (Mind mapping) merupakan salah satu cara mencatat materi pelajaran yang memudahkan siswa untuk belajar.
Peta pikiran (mind mapping) bisa juga dikategorikan sebagai teknik mencatat kreatif. Dikategorikan ke dalam teknik kreatif karena pembuatan peta pikiran (mind mapping) ini membutuhkan pemanfaatan imajinasi dari si pembuatnya. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Buzan pada awal 1970-an. Hingga saat ini metode yang merupakan implementasi dari radiant thinking adalah metode belajar yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. (Indra Yusuf, dalam http://www.pikiran-rakyat.com/prprint. )
Lebih lanjut Edward (2009: 64-65) mengatakan bahwa, sistem mind mapping mempunyai banyak keunggulan yang di antaranya: proses pembuatan mind mapping menyenangkan, karena tidak semata-mata hanya mengandalkan otak kiri saja dan sifatnya unik sehingga mudah diingat serta menarik perhatian mata dan otak. Oleh karena itu metode peta pikiran (mind mapping) ini akan sangat membantu memudahkan siswa dalam proses pembelajaran terutama digunakan dalam menulis narasi. Metode peta pikiran (mind mapping) akan menambah pengetahuan siswa untuk mencari urutan kronologis suatu peristiwa, kejadian, dan masalah yang diharapkan. Siswa akan lebih mudah jika dalam pembelajaran menulis narasi mengangkat tema dari kehidupan siswa sehari-hari atau pengalaman-pengalamannya. Melalui bimbingan guru, pengalaman-pengalaman tersebut dituangkan ke dalam kerangka berfikir melalui peta pikiran (mind mapping). Peta pikiran (mind mapping) tersebut penuh kreativitas siswa dengan gambar dan kata-katanya yang sangat variatif. Hal ini dapat memicu siswa untuk menulis karangan narasi yang lebih besar atau menarik siswa untuk menulis narasi. Berdasarkan hal tersebut, maka kemampuan menulis narasi siswa akan meningkat.
Metode peta pikiran (mind mapping) tentu akan sangat membantu siswa dalam memanfaatkan potensi kedua belah otaknya. Adanya interaksi yang luar biasa antara kedua belahan otak dapat memicu kreativitas yang memberikan kemudahan dalam proses menulis. Terbiasanya siswa menggunakan dan mengembangkan potensi kedua otaknya, akan dicapai peningkatan beberapa aspek, yaitu konsentrasi, kreativitas, dan pemahaman sehingga siswa dapat mengembangkan tulisannya melalui peta pikiran (mind mapping).
Berdasar latar belakang tersebut di atas, peneliti merasa perlu mengadakan penelitian tindakan kelas tentang Peningkatan Kemampuan Menulis Narasi Dengan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) Pada Siswa Kelas V Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.

B.  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diambil beberapa identifikasi masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang. Adapun identifikasi masalahanya adalah sebagai berikut :
1.    Siswa menganggap menulis narasi dalam pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang sulit sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa.
2.    Siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah menulis narasi karena pemahaman materi yang masih kurang.
3.    Siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep peta pikiran (mind mapping), dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan menulis narasi  dalam kehidupan sehari-hari.
4.    Kurang tepatnya pendekatan belajar yang digunakan guru di dalam menyampaikan materi ajar.
5.    Pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping)   merupakan alternatif metode yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
C. Perumusan dan Pemecahan Masalah
1.         Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut diatas, maka rumusan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah :
a.       Apakah melalui  penggunaan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi menulis narasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang?
b.      Apakah pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping)  merupakan pendekatan yang tepat dalam mempelajari materi menulis narasi pada pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang?
c.       Adakah peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping)?
2.         Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah siswa dalam memahami konsep menulis dan mengarang, dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping). Dengan menggunakan pendekatan ini, diharapkan para peserta didik dapat lebih mudah memahami konsep-konsep menulis dan mengarang. Serta dapat mengaplikasikan dalam situasi kehidupan sehari-hari, terutama pada mata pelajaran lain yang terkait.

D. Tujuan Penelitian
Memperhatikan masalah-masalah yang timbul dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang, maka diperlukan adanya usaha-usaha agar terdapat peningkatan hasil belajar siswa. Adapun tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.            Meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping) pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang Tahun Pelajaran 2010/2011.
2.            Meningkatkan kemampuan menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping) pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang Tahun Pelajaran 2010/2011.

E.     Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian dari penelitian tindakkan kelas ini adalah Peningkatan Kemampuan Menulis Narasi Dengan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) Pada Siswa Kelas V Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang, agar siswa menguasai konsep- konsep menulis dan mengarang.

F.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Digunakan sebagai metode alternatif dalam pelajaran bahasa Indonesia yang berkaitan dengan materi menulis narasi, dan menambah wawasan baru pengembangan teori menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping).
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi siswa
1)      Meningkatnya kemampuan siswa dalam menulis narasi.
2)      Meningkatnya motivasi siswa terhadap pembelajaran menulis narasi.
b.       Bagi guru
1)      Meningkatnya profesionalisme guru.

2)       Berkembangnya pembelajaran yang lebih inovatif dengan metode peta pikiran (mind mapping) dalam pembelajaran menulis narasi.

3)      Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam menyampaikan materi menulis narasi pada siswa.

c.        Bagi Sekolah
1)      Meningkatnya kualitas pembelajaran menulis narasi baik proses maupun hasil dalam pelajaran bahasa Indonesia.
2)      Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah.

G.    Hipotesis Tindakan Kelas
1.       Jika pembelajaran Bahasa Indonesia menerapkan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) yang dilakukan guru dengan tepat dan benar, maka akan meningkatkan hasil belajar siswa.
2.       Dengan menggunakan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia, siswa dapat menguasai konsep-konsep menulis dan mengarang, akan lebih mudah untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3.       Menggunakan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan minat belajar siswa.

BAB III
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A.    Metode Penelitian
Metode penelitian adalah strategi umum yang digunakan atau dianut dalam pengumpulan dan analisis data yang digunakan untuk menjawab masalah yang di hadapi.
Jenis penelitian tindakan kelas merupakan salah satu bentuk penelitian kualitatif yang dilakukan oleh seseorang  secara individual atau kolektif, yang bertujuan untuk mengubah atau memperbaiki berbagai hal tentang permasalahan yang mendesak dalam suatu komunitas atau kelompok tersebut (Trianto,2011:14).
Oleh karena itu, dalam hal ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang mana prosedur penelitiannya menghasilkan data deskriptif berupa perkataan.
Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang baik prilaku, peristiwa, atau tempat-tempat tertentu secara rinci dan mendalam (moleong, 2007:44).
Sementara itu pendapat lain mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan social yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristiwanya (margomo, 1997:36).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kritis dan interaktif. Teknik analisis kritis bertujuan untuk mengungkap kekurangan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses belajar mengajar di kelas selama penelitian berlangsung. Hal ini dilakukan berdasarkan kreteria normatif yang diturunkan dari kajian teoretis maupun dari ketentuan yang ada.
Adapun tenik analisis kedua yang dipergunakan, yaitu teknik analisis interaktif. Menurut Iskandar (2008: 222) dalam proses analisis data interaktif ada tiga langkah yang harus dilakukan oleh peneliti. Tiga langkah tersebut adalah (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3) penarikan simpulan atau verivikasi.
Secara diagramatik, proses siklus pengumpulan data dan anlisis data sampai pada tahap penyajian hasil penelitian, serta pengambilan kesimpulan. Berkaitan dengan keterampilan menulis narasi siswa, analisis interaktif merupakan kegiatan menulis narasi siswa yang dilakukan pada survei awal. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan menulis narasi siswa. Setelah kondisi awal diketahui, peneliti merencanakan siklus tindakan untuk memecahkan masalah. Setiap akhir siklus dianalisis kekurangan dan kelebihannya sehingga dapat diketahui peningkatan keterampilan menulis narasi siswa pada setiap siklusnya.
B.     Setting Penelitian Dan Karakteristik Subyek Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang. Yang direncanakan dalam kurun waktu minggu ke- 1 bulan Juni sampai dengan minggu ke- 3 bulan Juni 2011.
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang sebanyak 28 orang.



C.    Variabel Yang Diselidiki
Secara umum ada dua variabel dalam penelitian ini yakni variabel bebas dan variabel terikat. Sebagai variabel bebasnya adalah peningkatan kemampuan menulis narasi. Sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar bahasa Indonesia.
D.    Desain Penelitian
Desain penelitian berupa Penelitian Tindakan Kelas yang mana peneliti langsung terjun ke lapangan untuk melakukan proses observasi. Adapun penelitian tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan mutu atau memecahkan masalah pada sekelompok subyek yang diteliti serta mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindak lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baih. Untuk itu peniliti langsung terjun ke dalam kelas yang akan di teliti selama proses Penelitian Tindakan Kelas berlangsung.
Prinsip utama dalam PTK adalah pemberian tindakan dalam siklus yang bertahap dan berkelanjutan samapai memperoleh hasil yang ditetapkan. Siklus yang dinamis dengan tindakan yang sama. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Suhardjono dalam Suharsimi Arikunto (2008: 73), bahwa PTK dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang yang di dalamnya terdapat empat tahapan utama kegiatan, yaitu (a) perencanaan; (b) tindakan; (c) pengamatan; dan (d) refleksi.
 Jadi, alur kegiatan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut,Berdasarkan desain penelitian diatas, tahapan penelitian dijelaskan sebagai berikut :
1.      Tindakan Siklus I
A.    Tahap Perencanaan Tindakan
Adapun langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah:
1.      Menentukan pokok bahasan
2.      Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode peta pikiran (mind mapping).
3.      Mengembangkan skenario pembelajaran
4.      Menyiapkan sumber belajar
5.      Menyiapkan fasilitas dan sarana pendukung
6.      Mengembangkan format evaluasi pembelajaran
B.     Tahap Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan Awal
1.      Berdoa
2.      Presensi
3.      Guru mengkondisikan siswa.
4.      Apersepsi:
      - Guru menyampaikan materi yang akan disampaikan.
                        - Guru dan siswa tanya jawab tentang karangan
Kegiatan Inti
1.      Siswa dan guru bertanya jawab tentang langkah-langkah mengarang.
2.      Guru menjelaskan cara membuat kerangka karangan.
3.      Guru memberikan penjelasan tentang karangan narasi.
4.      Guru menjelaskan penggunaan peta pikiran (mind mapping) dalam karangan narasi.
5.      Siswa (secara individu) menuliskan karangan berdasarkan peta pikiran (mind mapping)
Kegitan Akhir
1.      Siswa dan guru menyimpulkan semua hasil kegiatan pembelajaran.
2.      Guru menutup pelajaran.
C.     Tahap Observasi
Tahap observasi dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa). Observasi diarahkan pada poin-poin dalam pedoman yang telah disiapkan peneliti.
D.    Tahap Refleksi
Mengadakan refleksi dan evaluasi dari kegiatan pelaksanaan tindakan siklus I. Tindakan yang dilakukan pada siklus I dikatakan berhasil apabila dari 22 siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang yang memperoleh nilai ≥65 mencapai indikator ketercapaian kinerja, yaitu 70%. Oleh karena itu, indikator ketercapaian kinerja pada siklus I belum dapat dicapai kemudian perlu dilakukan siklus II sebagai langkah perbaikan dari proses pembelajaran pada siklus I.
2. Tindakan Siklus II
A.    Tahap Perencanaan Tindakan
1.      Identifikasi masalah pada siklus I dan penetapan alternatif pemecahan masalah
2.      Menentukan pokok bahasan
3.      Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode peta pikiran (mind mapping)
4.      Mengembangkan skenario pembelajaran
5.      Menyiapkan sumber belajar
6.      Mengembangkan format evaluasi pembelajaran
B.     Tahap pelaksanaan Tindakan
1.      Memperbaiki tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah disempurnakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
2.      Guru menerapkan pembelajaran dengan metode peta pikiran (mind mapping)
3.      Siswa belajar dalam situasi pembelajaran dengan metode peta pikiran (mind mapping)
4.      Memantau perkembangan kemampuan menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping)
C.     Tahap Observasi
Tahap observasi dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa). Observasi diarahkan pada poin-poin dalam pedoman yang telah disiapkan peneliti.
D.    Tahap Refleksi
Hasil yang diperoleh dari tindakan siklus II melalui pemgamatan dan penilaian hasil kemampuan menulis narasi siswa kemudian dianalisis. Dari refleksi siklus pertama ditemukan adanya hambatan yaitu masih ada beberapa siswa yang masih merasa kesulitan dalam membuat peta pikiran sehingga dalam membuat karangan narasinya masih belum dapat berkembang. Hambatan ini kemudian diperbaiki pada siklus II yaitu dengan mendekati dan memberi bimbingan kepada siswa tersebut bagaimana cara membuat peta pikiran kemudian mengembangkannya menjadi sebuah karangan narasi. Pada setiap pertemuan siklus II, pembutan peta pikiran dibuat lebih menarik dengan jalan siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang diberi gambar berwarna yang menarik sehingga siswa dapat lebih mudah membuat peta pikiran kemudian mengemabangkannya kedalam bentuk karangan narasi. Siswa MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang juga telah mampu menggunakan kata penghubung lalu dalam tulisannya.

E.     Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1)   Pemberian tes
Menurut Zainal Arifin dalam Agus Suriamiharja (1997: 5) tes adalah suatu teknik atau cara dalam rangka melaksanakan kegiatan evaluasi, yang di dalamnya terdapat berbagai item atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh anak didik atau siswa, kemudian pekerjaan dan jawaban itu menghasilkan nilai tentang perilaku anak didik atau siswa tersebut. Berdasarkan pendapat tersebut disimpulkan bahwa tes merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur sesuatu.
Adapun tes dalam penelitian ini dilaksanakan setiap akhir pembelajaran atau pada saat pemberian evaluasi. Tes dilakukan terhadap siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang. Tes yang diberikan kepada siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang berupa tes uraian dalam bentuk tulisan atau karangan narasi yang harus diselesaikan oleh siswa. Pemberian tes ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh hasil yang diperoleh siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang setelah kegiatan pemberian tindakan.
2)   Observasi
Menurut H.B. Sutopo (2006: 75) teknik observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, aktivitas, perilaku, tempat atau lokasi, dan benda, serta rekaman gambar. Dalam teknik observasi ini dapat dibagi menjadi (1) tak berperan sama sekali, (2) observasi berperan yang terdiri dari (a) berperan pasif, (b) berperan aktif, dan (c) berperan penuh (Spradley dalam H.B. Sutopo, 2006: 75). Observasi yang peneliti lakukan adalah observasi berperan serta secara pasif. Observasi ini dilakukan oleh guru kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang dan peneliti dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas maupun kinerja siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi terhadap guru MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang difokuskan pada kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam pokok bahasan menulis narasi. Observasi terhadap kinerja juga diarahkan pada kegiatan guru kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang dalam menjelaskan pelajaran, memotivasi siswa, mengajukan pertanyaan dan menanggapi jawaban siswa, mengelola kelas, memberikan latihan dan umpan balik, dan melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Sementara itu observasi terhadap siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang difokuskan pada tingkat partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran.
3)      Kajian Dokumentasi

Teknik mencatat dokumen ini oleh Yin dalam H.B. Sutopo (2006: 81) disebut sebagai content analysis, sebagai cara untuk menemukan beragam hal sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitiannya. Kajian dokumen digunakan untuk memperoleh berbagai arsip atau data berupa Kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru, hasil ulangan dan nilai yang diberikan oleh guru, dan nama responden penelitian pada siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang. Selain itu, saat proses pembelajaran berlangsung dilakukan dokumentasi yang berupa foto dan video.
F.     Indakator Kinerja
Penelitian yang dilaksanakan 3 kali pertemuan suda cukup di gunakan untuk penelitian tindakan kelas. Penelitian ini mengambil topik tentang Peningkatan Kemampuan Menulis Narasi Dengan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) Pada Siswa Kelas V Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.
Maksudnya adalah dengan menggunakan metode Peta Pikiran (Mind Mapping) siswa akan lebih giat belajar dalam menulis narasi baik di sekolah maupun di rumah, serta bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dan lebih mudah memahami pelajaran.
G.    Tim penyusunnya dan tugasnya
1.      Ketua tim peneliti
·         Nama                           : Siti Suhaila
·         NIM                             : D37208010
·         Jenis kelamin               : Perempuan
·         Mitra kerja                   : Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.
2.      Anggota tim peneliti
·         Nama                           : Nadzir, M.Pd
·         Jenis kelamin               : laki-laki
·         Jabatan fungsional       : Dosen Pembimbing
3.      Anggota tim peneliti
·         Nama                           : Siti Komariah S.Pd
·         Jenis kelamin               : Perempuan
·         Jabatan                                    : Guru Kelas Bahasa Indonesia
·         Unit kerja                     : Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.
4.      Anggota tim peneliti 
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI DENGAN METODE PETA PIKIRAN (MIND MAPPING) PADA SISWA KELAS V MI PERGURUAN MUALLIMAT CUKIR JOMBANG.
PROPOSAL
(Penelitian Tindakan Kelas)

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
“ Seminar Pendidikan"


iain




         

         



Oleh:


Siti Suhaila
D37208010

Dosen Pembimbing:

Nadzir M.Pd



JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peranan seorang guru dalam proses belajar-mengajar harus mampu mengembangkan perubahan tingkah laku pada siswa. Perubahan tingkah laku tersebut merupakan tujuan dari pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik (2010: 79) mengungkapkan bahwa taksonomi tujuan pendidikan digunakan sebagai dasar untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Taksonomi tujuan tersebut terdiri dari domain-domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu dalam mengajar pada bidang studi apapun guru harus berupaya mengembangkan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap anak didik, sebab ketiga aspek tersebut merupakan pembentuk kepribadian individu.
Madrasah Ibtidaiyah adalah tempat pengalaman pertama yang memberikan dasar pembentuk kepribadian individu. Sehubungan dengan hal itu guru perlu membekali siswanya dengan kepribadian, kemampuan, dan keterampilan dasar yang cukup sebagai landasan untuk mempersiapkan pengalamannya pada jenjang yang lebih tinggi.
Masalah bahasa dalam dunia pendidikan merupakan peranan yang sangat penting. Pendidikan di Indonesia menempatkan bahasa Indonesia sebagai salah satu bidang studi yang diajarkan di sekolah. Pengajaran Bahasa Indonesia haruslah berisi usaha-usaha yang dapat membawa serangkaian keterampilan. Keterampilan tersebut erat hubungannya dengan proses-proses yang mendasari pikiran. Semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Menurut Tarigan, dalam Muchlisoh (1996: 257) ada empat aspek keterampilan berbahasa yang mencakup dalam pengajaran bahasa adalah: (1) keterampilan menyimak (listening skills); (2) keterampilan berbicara (speaking skills); (3) keterampilan membaca (reading skills); dan (4) keterampilan menulis (writting skills), dan keempat keterampilan tersebut saling berhubungan satu sama lain.
Salah satu bidang aktivitas dan materi pengajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah yang memegang peranan penting ialah pengajaran menulis. Menulis merupakan salah satu kompetensi bahasa yang ada dalam setiap jenjang pendidikan, mulai tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi. Menulis adalah salah satu dari 4 keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik oleh siswa. Menurut Yeti Mulyati, dkk. (2008: 5.3) menulis adalah suatu proses berfikir dan menuangkan pemikiran itu dalam bentuk wacana (karangan).
Menurut The Liang Gie (1992: 17) Mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Sehubungan dengan hal itu mengarang dapat diartikan keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami secara tepat seperti yang dimaksudkan oleh penulis atau pengarang. Karangan itu sendiri memiliki klasifikasi dan jenis yang beragam. Menurut Yusi Rosdiana, dkk. (2008: 3.22) wacana narasi merupakan salah satu jenis wacana yang berisi cerita. Hal ini berarti bahwa menulis narasi adalah salah satu jenis karangan yang sifatnya bercerita, baik berdasarkan pengalaman, pengamatan, maupun berdasarkan rekaan pengarang.
Menulis narasi merupakan kompetensi menulis yang sudah ada dan dimulai di jenjang Sekolah Dasar. Siswa dapat mengungkapkan perasaan, ide, dan gagasannya kepada orang lain melalui kegiatan menulis narasi. Kemampuan menulis narasi tidak secara otomatis dapat dikuasai oleh siswa, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur, sehingga siswa akan lebih mudah berekspresi dalam kegiatan menulis. Sehubungan dengan itu kemampuan menulis harus ditingkatkan sejak kecil atau mulai dari pendidikan dasar. Apabila kemampuan menulis tidak ditingkatkan, maka kemampuan siswa untuk mengungkapkan pikiran atau gagasan melalui bentuk tulisan akan semakin berkurang atau tidak berkembang.
Hal-hal yang berbeda seperti dapat dijumpai dalam keterampilan berbahasa yang lain, kemampuan menulis memerlukan sejumlah potensi pendukung. Untuk mencapainya dibutuhkan kesungguhan-kesungguhan, kemauan keras, bahkan dengan belajar sungguh-sungguh. Dengan demikian, wajar bila dikatakan bahwa meningkatkan kemampuan menulis akan mendorong siswa lebih aktif, kreatif dan melatih kemahiran.
Kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah metode pembelajaran. Menurut T. Raka Joni dalam Soli Abimanyu (2008: 2-5) metode adalah cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Metode merupakan cara pelaksanaan kegiatan dalam mencapai tujuan yaitu tujuan pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang telah terbukti mampu mengoptimalkan hasil belajar adalah metode peta konsep atau disebut peta pikiran (mind mapping). Menurut Edward (2009: 64) peta pikiran (mind mapping) adalah cara paling efektif dan efisien untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan data dari atau ke otak. Peta pikiran (Mind mapping) merupakan salah satu cara mencatat materi pelajaran yang memudahkan siswa untuk belajar.
Peta pikiran (mind mapping) bisa juga dikategorikan sebagai teknik mencatat kreatif. Dikategorikan ke dalam teknik kreatif karena pembuatan peta pikiran (mind mapping) ini membutuhkan pemanfaatan imajinasi dari si pembuatnya. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Buzan pada awal 1970-an. Hingga saat ini metode yang merupakan implementasi dari radiant thinking adalah metode belajar yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. (Indra Yusuf, dalam http://www.pikiran-rakyat.com/prprint. )
Lebih lanjut Edward (2009: 64-65) mengatakan bahwa, sistem mind mapping mempunyai banyak keunggulan yang di antaranya: proses pembuatan mind mapping menyenangkan, karena tidak semata-mata hanya mengandalkan otak kiri saja dan sifatnya unik sehingga mudah diingat serta menarik perhatian mata dan otak. Oleh karena itu metode peta pikiran (mind mapping) ini akan sangat membantu memudahkan siswa dalam proses pembelajaran terutama digunakan dalam menulis narasi. Metode peta pikiran (mind mapping) akan menambah pengetahuan siswa untuk mencari urutan kronologis suatu peristiwa, kejadian, dan masalah yang diharapkan. Siswa akan lebih mudah jika dalam pembelajaran menulis narasi mengangkat tema dari kehidupan siswa sehari-hari atau pengalaman-pengalamannya. Melalui bimbingan guru, pengalaman-pengalaman tersebut dituangkan ke dalam kerangka berfikir melalui peta pikiran (mind mapping). Peta pikiran (mind mapping) tersebut penuh kreativitas siswa dengan gambar dan kata-katanya yang sangat variatif. Hal ini dapat memicu siswa untuk menulis karangan narasi yang lebih besar atau menarik siswa untuk menulis narasi. Berdasarkan hal tersebut, maka kemampuan menulis narasi siswa akan meningkat.
Metode peta pikiran (mind mapping) tentu akan sangat membantu siswa dalam memanfaatkan potensi kedua belah otaknya. Adanya interaksi yang luar biasa antara kedua belahan otak dapat memicu kreativitas yang memberikan kemudahan dalam proses menulis. Terbiasanya siswa menggunakan dan mengembangkan potensi kedua otaknya, akan dicapai peningkatan beberapa aspek, yaitu konsentrasi, kreativitas, dan pemahaman sehingga siswa dapat mengembangkan tulisannya melalui peta pikiran (mind mapping).
Berdasar latar belakang tersebut di atas, peneliti merasa perlu mengadakan penelitian tindakan kelas tentang Peningkatan Kemampuan Menulis Narasi Dengan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) Pada Siswa Kelas V Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.

B.  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diambil beberapa identifikasi masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang. Adapun identifikasi masalahanya adalah sebagai berikut :
1.    Siswa menganggap menulis narasi dalam pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang sulit sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa.
2.    Siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah menulis narasi karena pemahaman materi yang masih kurang.
3.    Siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep peta pikiran (mind mapping), dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan menulis narasi  dalam kehidupan sehari-hari.
4.    Kurang tepatnya pendekatan belajar yang digunakan guru di dalam menyampaikan materi ajar.
5.    Pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping)   merupakan alternatif metode yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
C. Perumusan dan Pemecahan Masalah
1.         Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut diatas, maka rumusan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah :
a.       Apakah melalui  penggunaan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi menulis narasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang?
b.      Apakah pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping)  merupakan pendekatan yang tepat dalam mempelajari materi menulis narasi pada pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang?
c.       Adakah peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping)?
2.         Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah siswa dalam memahami konsep menulis dan mengarang, dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping). Dengan menggunakan pendekatan ini, diharapkan para peserta didik dapat lebih mudah memahami konsep-konsep menulis dan mengarang. Serta dapat mengaplikasikan dalam situasi kehidupan sehari-hari, terutama pada mata pelajaran lain yang terkait.

D. Tujuan Penelitian
Memperhatikan masalah-masalah yang timbul dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang, maka diperlukan adanya usaha-usaha agar terdapat peningkatan hasil belajar siswa. Adapun tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.            Meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping) pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang Tahun Pelajaran 2010/2011.
2.            Meningkatkan kemampuan menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping) pada siswa kelas V MI Perguruan Muallimat Cukir Jombang Tahun Pelajaran 2010/2011.

E.     Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian dari penelitian tindakkan kelas ini adalah Peningkatan Kemampuan Menulis Narasi Dengan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) Pada Siswa Kelas V Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang, agar siswa menguasai konsep- konsep menulis dan mengarang.

F.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Digunakan sebagai metode alternatif dalam pelajaran bahasa Indonesia yang berkaitan dengan materi menulis narasi, dan menambah wawasan baru pengembangan teori menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping).
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi siswa
1)      Meningkatnya kemampuan siswa dalam menulis narasi.
2)      Meningkatnya motivasi siswa terhadap pembelajaran menulis narasi.
b.       Bagi guru
1)      Meningkatnya profesionalisme guru.

2)       Berkembangnya pembelajaran yang lebih inovatif dengan metode peta pikiran (mind mapping) dalam pembelajaran menulis narasi.

3)      Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam menyampaikan materi menulis narasi pada siswa.

c.        Bagi Sekolah
1)      Meningkatnya kualitas pembelajaran menulis narasi baik proses maupun hasil dalam pelajaran bahasa Indonesia.
2)      Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah.

G.    Hipotesis Tindakan Kelas
1.       Jika pembelajaran Bahasa Indonesia menerapkan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) yang dilakukan guru dengan tepat dan benar, maka akan meningkatkan hasil belajar siswa.
2.       Dengan menggunakan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia, siswa dapat menguasai konsep-konsep menulis dan mengarang, akan lebih mudah untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3.       Menggunakan pendekatan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan minat belajar siswa.

BAB III
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A.    Metode Penelitian
Metode penelitian adalah strategi umum yang digunakan atau dianut dalam pengumpulan dan analisis data yang digunakan untuk menjawab masalah yang di hadapi.
Jenis penelitian tindakan kelas merupakan salah satu bentuk penelitian kualitatif yang dilakukan oleh seseorang  secara individual atau kolektif, yang bertujuan untuk mengubah atau memperbaiki berbagai hal tentang permasalahan yang mendesak dalam suatu komunitas atau kelompok tersebut (Trianto,2011:14).
Oleh karena itu, dalam hal ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang mana prosedur penelitiannya menghasilkan data deskriptif berupa perkataan.
Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang baik prilaku, peristiwa, atau tempat-tempat tertentu secara rinci dan mendalam (moleong, 2007:44).
Sementara itu pendapat lain mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan social yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristiwanya (margomo, 1997:36).
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kritis dan interaktif. Teknik analisis kritis bertujuan untuk mengungkap kekurangan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses belajar mengajar di kelas selama penelitian berlangsung. Hal ini dilakukan berdasarkan kreteria normatif yang diturunkan dari kajian teoretis maupun dari ketentuan yang ada.
Adapun tenik analisis kedua yang dipergunakan, yaitu teknik analisis interaktif. Menurut Iskandar (2008: 222) dalam proses analisis data interaktif ada tiga langkah yang harus dilakukan oleh peneliti. Tiga langkah tersebut adalah (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3) penarikan simpulan atau verivikasi.
Secara diagramatik, proses siklus pengumpulan data dan anlisis data sampai pada tahap penyajian hasil penelitian, serta pengambilan kesimpulan. Berkaitan dengan keterampilan menulis narasi siswa, analisis interaktif merupakan kegiatan menulis narasi siswa yang dilakukan pada survei awal. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan menulis narasi siswa. Setelah kondisi awal diketahui, peneliti merencanakan siklus tindakan untuk memecahkan masalah. Setiap akhir siklus dianalisis kekurangan dan kelebihannya sehingga dapat diketahui peningkatan keterampilan menulis narasi siswa pada setiap siklusnya.
B.     Setting Penelitian Dan Karakteristik Subyek Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang. Yang direncanakan dalam kurun waktu minggu ke- 1 bulan Juni sampai dengan minggu ke- 3 bulan Juni 2011.
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang sebanyak 28 orang.



C.    Variabel Yang Diselidiki
Secara umum ada dua variabel dalam penelitian ini yakni variabel bebas dan variabel terikat. Sebagai variabel bebasnya adalah peningkatan kemampuan menulis narasi. Sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar bahasa Indonesia.
D.    Desain Penelitian
Desain penelitian berupa Penelitian Tindakan Kelas yang mana peneliti langsung terjun ke lapangan untuk melakukan proses observasi. Adapun penelitian tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan mutu atau memecahkan masalah pada sekelompok subyek yang diteliti serta mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindak lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baih. Untuk itu peniliti langsung terjun ke dalam kelas yang akan di teliti selama proses Penelitian Tindakan Kelas berlangsung.
Prinsip utama dalam PTK adalah pemberian tindakan dalam siklus yang bertahap dan berkelanjutan samapai memperoleh hasil yang ditetapkan. Siklus yang dinamis dengan tindakan yang sama. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Suhardjono dalam Suharsimi Arikunto (2008: 73), bahwa PTK dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang yang di dalamnya terdapat empat tahapan utama kegiatan, yaitu (a) perencanaan; (b) tindakan; (c) pengamatan; dan (d) refleksi.
 Jadi, alur kegiatan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut,Berdasarkan desain penelitian diatas, tahapan penelitian dijelaskan sebagai berikut :
1.      Tindakan Siklus I
A.    Tahap Perencanaan Tindakan
Adapun langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah:
1.      Menentukan pokok bahasan
2.      Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode peta pikiran (mind mapping).
3.      Mengembangkan skenario pembelajaran
4.      Menyiapkan sumber belajar
5.      Menyiapkan fasilitas dan sarana pendukung
6.      Mengembangkan format evaluasi pembelajaran
B.     Tahap Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan Awal
1.      Berdoa
2.      Presensi
3.      Guru mengkondisikan siswa.
4.      Apersepsi:
      - Guru menyampaikan materi yang akan disampaikan.
                        - Guru dan siswa tanya jawab tentang karangan
Kegiatan Inti
1.      Siswa dan guru bertanya jawab tentang langkah-langkah mengarang.
2.      Guru menjelaskan cara membuat kerangka karangan.
3.      Guru memberikan penjelasan tentang karangan narasi.
4.      Guru menjelaskan penggunaan peta pikiran (mind mapping) dalam karangan narasi.
5.      Siswa (secara individu) menuliskan karangan berdasarkan peta pikiran (mind mapping)
Kegitan Akhir
1.      Siswa dan guru menyimpulkan semua hasil kegiatan pembelajaran.
2.      Guru menutup pelajaran.
C.     Tahap Observasi
Tahap observasi dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa). Observasi diarahkan pada poin-poin dalam pedoman yang telah disiapkan peneliti.
D.    Tahap Refleksi
Mengadakan refleksi dan evaluasi dari kegiatan pelaksanaan tindakan siklus I. Tindakan yang dilakukan pada siklus I dikatakan berhasil apabila dari 22 siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang yang memperoleh nilai ≥65 mencapai indikator ketercapaian kinerja, yaitu 70%. Oleh karena itu, indikator ketercapaian kinerja pada siklus I belum dapat dicapai kemudian perlu dilakukan siklus II sebagai langkah perbaikan dari proses pembelajaran pada siklus I.
2. Tindakan Siklus II
A.    Tahap Perencanaan Tindakan
1.      Identifikasi masalah pada siklus I dan penetapan alternatif pemecahan masalah
2.      Menentukan pokok bahasan
3.      Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode peta pikiran (mind mapping)
4.      Mengembangkan skenario pembelajaran
5.      Menyiapkan sumber belajar
6.      Mengembangkan format evaluasi pembelajaran
B.     Tahap pelaksanaan Tindakan
1.      Memperbaiki tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah disempurnakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
2.      Guru menerapkan pembelajaran dengan metode peta pikiran (mind mapping)
3.      Siswa belajar dalam situasi pembelajaran dengan metode peta pikiran (mind mapping)
4.      Memantau perkembangan kemampuan menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping)
C.     Tahap Observasi
Tahap observasi dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa). Observasi diarahkan pada poin-poin dalam pedoman yang telah disiapkan peneliti.
D.    Tahap Refleksi
Hasil yang diperoleh dari tindakan siklus II melalui pemgamatan dan penilaian hasil kemampuan menulis narasi siswa kemudian dianalisis. Dari refleksi siklus pertama ditemukan adanya hambatan yaitu masih ada beberapa siswa yang masih merasa kesulitan dalam membuat peta pikiran sehingga dalam membuat karangan narasinya masih belum dapat berkembang. Hambatan ini kemudian diperbaiki pada siklus II yaitu dengan mendekati dan memberi bimbingan kepada siswa tersebut bagaimana cara membuat peta pikiran kemudian mengembangkannya menjadi sebuah karangan narasi. Pada setiap pertemuan siklus II, pembutan peta pikiran dibuat lebih menarik dengan jalan siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang diberi gambar berwarna yang menarik sehingga siswa dapat lebih mudah membuat peta pikiran kemudian mengemabangkannya kedalam bentuk karangan narasi. Siswa MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang juga telah mampu menggunakan kata penghubung lalu dalam tulisannya.

E.     Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1)   Pemberian tes
Menurut Zainal Arifin dalam Agus Suriamiharja (1997: 5) tes adalah suatu teknik atau cara dalam rangka melaksanakan kegiatan evaluasi, yang di dalamnya terdapat berbagai item atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh anak didik atau siswa, kemudian pekerjaan dan jawaban itu menghasilkan nilai tentang perilaku anak didik atau siswa tersebut. Berdasarkan pendapat tersebut disimpulkan bahwa tes merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur sesuatu.
Adapun tes dalam penelitian ini dilaksanakan setiap akhir pembelajaran atau pada saat pemberian evaluasi. Tes dilakukan terhadap siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang. Tes yang diberikan kepada siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang berupa tes uraian dalam bentuk tulisan atau karangan narasi yang harus diselesaikan oleh siswa. Pemberian tes ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh hasil yang diperoleh siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang setelah kegiatan pemberian tindakan.
2)   Observasi
Menurut H.B. Sutopo (2006: 75) teknik observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, aktivitas, perilaku, tempat atau lokasi, dan benda, serta rekaman gambar. Dalam teknik observasi ini dapat dibagi menjadi (1) tak berperan sama sekali, (2) observasi berperan yang terdiri dari (a) berperan pasif, (b) berperan aktif, dan (c) berperan penuh (Spradley dalam H.B. Sutopo, 2006: 75). Observasi yang peneliti lakukan adalah observasi berperan serta secara pasif. Observasi ini dilakukan oleh guru kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang dan peneliti dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas maupun kinerja siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi terhadap guru MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang difokuskan pada kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam pokok bahasan menulis narasi. Observasi terhadap kinerja juga diarahkan pada kegiatan guru kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang dalam menjelaskan pelajaran, memotivasi siswa, mengajukan pertanyaan dan menanggapi jawaban siswa, mengelola kelas, memberikan latihan dan umpan balik, dan melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Sementara itu observasi terhadap siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang difokuskan pada tingkat partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran.
3)      Kajian Dokumentasi

Teknik mencatat dokumen ini oleh Yin dalam H.B. Sutopo (2006: 81) disebut sebagai content analysis, sebagai cara untuk menemukan beragam hal sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitiannya. Kajian dokumen digunakan untuk memperoleh berbagai arsip atau data berupa Kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru, hasil ulangan dan nilai yang diberikan oleh guru, dan nama responden penelitian pada siswa kelas V MI. Perguruan Muallimat Cukir Jombang. Selain itu, saat proses pembelajaran berlangsung dilakukan dokumentasi yang berupa foto dan video.
F.     Indakator Kinerja
Penelitian yang dilaksanakan 3 kali pertemuan suda cukup di gunakan untuk penelitian tindakan kelas. Penelitian ini mengambil topik tentang Peningkatan Kemampuan Menulis Narasi Dengan Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) Pada Siswa Kelas V Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.
Maksudnya adalah dengan menggunakan metode Peta Pikiran (Mind Mapping) siswa akan lebih giat belajar dalam menulis narasi baik di sekolah maupun di rumah, serta bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dan lebih mudah memahami pelajaran.
G.    Tim penyusunnya dan tugasnya
1.      Ketua tim peneliti
·         Nama                           : Siti Suhaila
·         NIM                             : D37208010
·         Jenis kelamin               : Perempuan
·         Mitra kerja                   : Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.
2.      Anggota tim peneliti
·         Nama                           : Nadzir, M.Pd
·         Jenis kelamin               : laki-laki
·         Jabatan fungsional       : Dosen Pembimbing
3.      Anggota tim peneliti
·         Nama                           : Siti Komariah S.Pd
·         Jenis kelamin               : Perempuan
·         Jabatan                                    : Guru Kelas Bahasa Indonesia
·         Unit kerja                     : Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.
4.      Anggota tim peneliti
·         Nama                              : Ahmad Nadhief S. Pd
·         Jenis kelamin               : laki-laki
·         Jabatan                           : Kepala Sekolah
·         Unit kerja                    : Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.

·         Nama                           : Ahmad Nadhief S. Pd
·         Jenis kelamin               : laki-laki
·         Jabatan                                    : Kepala Sekolah
·         Unit kerja                    : Mi Perguruan Muallimat Cukir Jombang.

0 komentar:

Poskan Komentar